Sunday, 31 July 2011

IMAM HAMBALI

IMAM HAMBALI, TAK GOYAH OLEH SIKSAAN

Bernama Muhammad as Syaibani bin Hambal. Lahir di masa pemerinyahan Muhammad al Mahdi, dinasti Bani Abbasiyah, bulan Rabiul Awwal 164 Hijriyah (780 Masehi). Keadaan kecilnya tak banyak beda dengan Imam Syafei, yatim.
Di antara empat Imam madzab, beliau tergolong bungsu dan terakhir. Sudah menjadi sunatullah, setiap orang besar dan berderajad tinggi di sisi Allah, niscaya mendapatkan ujian berat. ujian itu sengaja turun dari hadirat-Nya, untuk manusia, supaya terbukti di tengah khalayak, apakah ia loyang atau emas. Jika emas, sekalipun tersuruk di comberan, ia akan tetap sebagai emas yang kemilau.
Ujian yang menimpa Imam Hambali tergolong berat, dan jarang yang menyepadani. Ujian itu bermula dari seorang ulama rasionalis, bernama Basyar al Marisy. Ia berpendapat bahwa al-Qur'an itu termasuk makhluk. Waktu itu kekhalifahan Bagdad di pegang oleh baginda Harun al Rasyid. Pendapat itu ditentang oleh baginda, karena sangat berbahaya bagi aqidah dan meresahkan. Beliau sempat mengancam, kataya, "Sekiranya Allah memberikan panjang usiaku dan aku sempat bertemu Basyar, niscaya ia akan aku hukum bunuh dengan pembunuhan yang tak pernah aku jatuhkan atas orang lain."
Kemudian Syekh Basyar al-Marosy lari menyembunyikan diri selama 20 tahun. Baru sepeninggal Harun al rasyid, Syekh Basyar berani menampakkan diri dan menyiarkan pendapatnya di tengah masyarakat ramai, bahwa al-Qur'an itu sesungguhnya makhluk. Orang pun ramai memperbincangkan masalah itu. Baginda al Amin selaku pengganti Harun al Rassyid masih bisa meredam gejolak yang timbul. Ia masih meneruskan usaha syahadatnya dan masih memberikan ancaman berat kepada orang yang sependapat dengan Syeikh Basyar.
Setelah jabatan jatuh ke tangan Baginda al Ma'mun, kebijaksanaan pemerintah Bani Abbasyiah berubah drastis. Golongan mu'tazillah mendapat lampu hijau dan dukungan dari belia. Pemikiranpemikiran mereka mulai banyak berpengaruh dalam menentukan kebijaksaan pemerintah. Termasuk juga pendapat yang mengatakan bahwa al-Qur'an itu makhluk (barang yang diciptakan oleh Allah).
Baginda al Mukmin terpengaruh berat dan beliau berusaha agar pendapat itu diakui oleh seluruh rakyatnya. Beliau menginginkan keyakinannya itu mendapatkan dukungan yang luas, utamanya dari para alim ulama. Tindakan baginda terlalu jauh. Beliau malah memerintahkan kepala intelejen agar mencatat siapa-siapa di kalangan ulama yang berani berbeda pendapat dengan pemerintah. Mereka niscaya akan masuk black list) (daftar hitam).
Ulama besar yang berani lantang mengatakan bahwa al-Qur'an itu bukan makhluk ialah Imam Hambali. Beliau menegaskan bahwa al -Qur'an kalamullah (firman Allah), bukan makhluk.
Saat itu juga Imam Ahmad dipanggil menghadap, bersama tiga ulama yang lain, yaitu Imam Muhammad bin Nuh, Imam Ubaidilah bin Umar dan Imam Hasan bin Hammad. Kedua orang yang belakangan tatkala ditanya, menyatakan sependapat dengan pemerintah. Sedang Imam Hambali an Imam Muhammad bin Nuh tetap pada pendiriannya.
Berbeda pendapat dengan pengusasa berarti menentang negara. Menentang negara berarti mengganggu stabilitas. Oleh karena itu perlu diamankan, alias dipenjarakan.
Sementara Imam Hambali dan kawannya mendekam dalam penjara, ada permintaan melalui surat dari orang-orang yang tak suka kepada keduanya, agar mereka diarak ke kota Tharsus. Pada suatu hari, permintaan tersebut dikabulkan oleh penguasa. Kedua Imam tersebut diikat dengan rantai dan dibawa ke kota Tharsus disaksikan orang banyak. Berikutnya dimasukkan penjara lagi.
Maimmun bin al Ashbagh berkisah, "Saya datang menghadiri majelis pengadilan negara yang akan memeriksa perkara Imam Ahmad. Di majelis pengadilan terlihat pedang-pedang telah dihunuskan, tombak-tombak telah dicadangkan, panah-panah telah dibusurkan, dan cambuk cemeti siap dilepaskan untuk Imam Ahmad. Datanglah baginda al Ma'mun, lalu duduk di atas kursi yang telah tersedia di balai persidangan. Imam Ahmad dipanggil menghadap, baginda berkata, 'Atas nama saya sebagai kerabat Rasulullah saw saya akan memukul engkau dengan cemiti sampai engkau membenarkan apa yang telah saya benarkan, atau engkau menyatakan seperti apa yang saya katakan.'"
Kepada algojo tukang pukul baginda berkata, "Ambillah orang itu dan pukullah." Algojo melaksanakan perintah dengan cekatan. Imam Hambali diseret lalu dipukul dengan cemeti. Pukulan pertama telah mengenai sasaran. Beliau tenang tanpa sesambat, dan berucap lirih, "bismillah". Pukulan cemeti kedua beliau mengucapkan kata "La qaula wala quwwata illabillah". Pada getaran cambuk yang ketiga dengan lantang beliau berguman, "al Qur'ab kalamullabi ghairu makhluqin."
Kemudian pada pukulan cemeti yang keempat beliau sempat dendangkan kalam Ilahi "Qul lan yushibana illa ma kataballah lana"(9:51).
Algojo tukang pukul kerajaan itu tak sedikitpun merasa iba. Ia terus-menerus mengayunkan cemetinya ke sekujur tubuh mulia Imam Ahmad. Terhitung 29 kali cambukan menimpanya. Sekujur tubuh beliau berlepotan darah segar. Betapa sakitnya. Itukah yang meski kau bayar demi mempertahankan sebuah keyakinan yang haq indallabi?
Di kala itu juga tali celana yang beliau pakai putus terkena sabetan cambuk. Nyaris aurat beliau terbuka. Beliau merasakan hal itu. Dalam suasana sepedih itu beliau masih sempat berpikir bagaimana jika auratnya terbuka. Bukankah hal itu kurang berkenan di hadirat Allah? Untuk membenahinya jelas sulit, maka beliau tiba-tiba mengangkat tangan dan melepaskan pandangan matanya ke arah langit, sembari komat-kamit menggerakan bibir menyuarakan kalimat do'a. Seketika celana melorot yang hampir lepas itu kembali seperti sedia kala. Aurat pun terselamatkan dari musibah malu di muka orang. Sesudah hukum cambuk dirasa cukup, maka beliau dibawa masuk ke dalam penjara lagi dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
Berselang beberapa bulan berikutnya baginda al Ma'mun wafat. Sebelum wafat, beliau berpesan agar kebijaksanaan dan pendiriaanya terhadap al-Qur'an tetap diteruskan oleh penggantinya. Siapa saja, tak peduli alim ulama, jika melawan, harus didera dan dipenjarakan. Terhadap Imam Hambali, selama belum bergeming, masih harus mendekam dalam penjara dan dihukum berat.
Pesan al Ma'mun yang sejelek itu oleh penggantinya, al Mu'tashin, dilaksanakan dengan baik. Imam Hambali mendapatkan perlakuan yang sama sebagaimana sebelumnya. Suatu hari beliau dipanggil menghadap baginda. Imam Ahmad diminta beradu argumentasi dengan sejumlah ulama pemerintah. Di antaranya bernama Ahmad bin Abi Daud, ketua majelis ulama kerajaan yang dipandang paling pandai dan berbobot dalam keilmuan. Seorang ulama yang fatwanya selalu mendukung kebijaksanaan kerajaan. Dalam perdebatan itu Imam Ahmad berpenampilan tenang, tak mengada-ada. Beliau gagah dan berdiri kokoh di atas dasar kebenaran yang selalu berpihak kepada Allah swt. Tak ada sedikitpun terlintas di raut wajahnya ambisi memenangkan perdebatan. Sebab beliau yakin, kebenaran akan kelihatan sekalipun penguasa dunia berusaha mengebirinya. Kebenaran selalu bersandar kepada Sang Sumber kebenaran itu sendiri, Allah swt. Satu demi satu argumentasi Ahmad bin Abi Daud dipatahkan dengan telak dan meyakinkan. Namun demikian dasar penguasa dzalim, al Mu'tashim tetap bersikukuh hendak memaksakan pendapatnya.
Imam Hambali sebagai alim ulama besar dan arif yang memegang Qur'an dan Sunnah dengan tegasnya mengemukakan jawaban kepada baginda al-Mu'tashim, "Wahai amirul mu'minin, berikan dan ajukanlah kepadaku suatu alasan yang terang berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah, biar nanti aku sadar dan insaf, lalu aku ikut mengatakan bahwa al-Qur'an itu makhluk. Bagaimana aku harus mengikuti pendapat dan pendirian orang lain yang tidak didasari alasan yang benar?"
Imam Hambali tetap meringkuk dalam penjara sampai matinya baginda al Mu'tashim. Yang menggantikan dan pemegang tampuk kekuasaan untuk selanjutnya anak mahkotanya sendiri yang bernama al Warsiq billah. Perlakukan kepada Imam Hambali tak mengalami perubahan sedikitpun. Imam masih juga dibiarkan menghuni penjara samapi al Watsisq wafat.
Demikianlah secara berlarut-larut yang mulia Imam Hambali menempati rumah tahanan. Terkadang di penjara beliau mendapatkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Pernah beberapa kali punggungnya didorong dari belakang dengan tongkat kayu, bahkan pernah dengan pedang dan sebagainya. Beliau sering jatuh terjerembab di lantai saat didorong-dorong. Maklum usia beliau waktu itu sudah lanjut. Biasanya beliau jatuh pingsan jika sudah begitu. Badan beliau tidak memungkinkan menanggung beban hukuman berat seperti itu. Badannya mulai rapuh dimakan usia. Hanya aqidah dan pendiriannya tak pernah rapuh. Bagai batu karang keras yang seolah tak bergeming sama sekali saat ombak ganas menerpa.

PRIBADI YANG MENGAGUMKAN
Imam Hambali orangnya cukup berwibawa. Rata-rata yang pernah bersua dengan beliau merasakan getaran wibawa saat berhadapan dan bertatap muka langsung. Ishaq bin Ibrahim berkisah tentang orang -orang besar, tetapi tak pernah ditemui orang besar seperti Imam Hambali. Seseorang seolah bergetar hatinya dan amat sungkan seperti serba gemetar jika melihat dan berbicara dengan Imam Hambali.
Imam Adul Qasim bin Salam berkata, "Aku pernah duduk bersama-sama Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad bin Hasan, Imam Yahya bin said, dan Imam Abdurrahman bin Mahdi, maka aku tidak merasakan takut sedikitpun kepada salah seorang dari mereka seperti takutku kepada Imam Ahmad bin Hambal. Pada suatu hari aku menengoknya di penjara untuk menyampaikan salam penghormatan. Ketika itu ada seorang lelaki menanyakan suatu masalah kepadaku, maka aku tidak dapat menjawabnya, karena takut kepada pribadi beliau."
Semua keadaan disebabkan adanya pantulan cahaya dari pribadi dan akhlak beliau yang mulia. Beliau adalah seorang yang pendiam. Setiap untaian kata yang akan diucapkan selalu dipertimbangkan bermutu dan tidaknya, berguna dan mubadzirnya. Beliau yakin setiap ungkapan kata menuntut pertanggungjawaban. Ketawadhuannya luar biasa, sekalipun ilmu dan akhlaknya diakui oleh siapapun. Beliau tak pernah berbangga dan bersombong diri. Bersikap lembut dan selalu berpenampilkan sangat ramah, tidak begitu lunak dan tidak begitu keras. Beliau sangat pemalu, memejamkan mata apabila didepannya ada sesuatu yang dilarang. Suka menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan tidak suka mendengar perkataan keji dan kurang pantas.
Apabila beliau berjalan, kemudian ada orang ikut berjalan di belakangnya, beliau tidak suka. Diajaknya orang itu berjalan bersama-sama. Tak pernah sekalipun beliau menjulurkan kakinya ke depan di pertemuan orang banyak. Menurutnya hal itu tak pantas dan kurang sopan. Kalau membenci seseorang, beliau berusaha membenci karena Allah. Jika suka kepada seseorangpun, harus suka semata karena Allah. Beliau mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Beliau sangat simpati kepada orang yang sedang menderita, fakir miskin, dan kerapkali duduk-duduk di tengah-tengah mereka.
Imam Hambali wafat dalam usi 77 tahun. Kematiannya sempat menebarkan kabut duka di segenap wilayah kerajaan Bani Abbasiyah. Baginda al Mutawakkil sendiri turut berduka mendalam atas kematian seoran yang pernah diperlakukan aniaya oleh leluhurnya dulu.

Tuesday, 12 July 2011

IMAM ABU HANIFAH

Riwayat Hidup

a. Beliau dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bersamaan dengan 699 Masihi di Kufah semasa
    pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
b. Nama sebenarnya ialah An-Nukman bin Thabit.
c. Imam Abu Hanifah rahimullah berasal daripada bangsa Parsi.
d. Beliau digelar "Abu Hanifah" kerana beliau sentiasa bersama tinta untuk mencatat ilmu
    pengetahuan yang dipelajarinya.
e. Imam Abu Hanifah meninggal dunia pada tahun 150 Hijrah bersamaan 767 Masihi di dalam penjara
    ketika berumur 70 tahun dan dikebumikan di Baghdad.
f.  Beliau adalah pengasas "Mazhab Hanafi".

Sifat-sifat Peribadi

a. Imam Abu Hanifah mempunyai ilmu pengetahuan yang amat tinggi.
b. Beliau berani menghadapi segala bentuk cabaran untuk menegakkan kebenaran.
c. Beliau juga suka menghulurkan bantuan kepada sesiapa saja yang memerlukan bantuan tanpa
    mengira usia, pangkat dan darjat.
d. Imam Abu Hanifah seorang yang rajin berusaha dan bercita-cita tinggi dalam hidupnya.
e. Beliau seorang yang bertakwa kepada Allah S.W.T., warak, qana’ah dan tidak tamak pada harta
    kekayaan.
f. Beliau juga seorang abid yang kuat beribadat dan berpegang teguh pada ajaran Islam.

Pendidikan

a. Sejak kecil, Imam Abu Hanifah berminat mempelajari ilmu pengetahuan.
b. Beliau sempat menuntut ilmu dengan beberapa sahabat nabi. Antaranya termasuklah Anas bin
    Malik,Abdullah bin Abi Aufa, Sahal bin Abi Saad, Abdullah bin Al-Harith dan Abdullah bin Anas.
c. Beliau juga menuntut ilmu daripada 200 orang ulama termasuk para sahabat dan tabi'in.
d. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya ialah ilmu tauhid, ilmu Al-Quran dan ilmu hadis. Beliau juga mahir
    dalam bidang sastera.
e. Imam Abu Hanifah telah berguru dengan seorang ulama iaitu Hamad bin Sulaiman selama 20 tahun.
   Selepas gurunya meninggal dunia, beliau mengambil alih tempat tersebut untuk menyebarkan ilmu
    kepada orang ramai.

Sumbangan dan Jasa

.a Beliau rajin menyampaikan ilmu pengetahuan kepada orang ramai terutamanya dalam bidang agama.
b. Imam Abu Hanifah seorang yang pakar dalam bidang ilmu hadis sehingga beliau dapat membezakan
    antara hadis yang sahih dan hadis yang tidak sahih.
c. Beliau juga terkenal sebagai seorang ahli fikir dalam Islam kerana beliau banyak menggunakan akal
    fikiran dalam memutuskan sesuatu hukum apabila perkara tersebut tidak terdapat dalam Al-Quran
     atau hadis nabi.
d. Berbekalkan kebolehan yang di milikinya dalam menghuraikan hukum-hukum fikah, beliau menyusun
    ilmu tersebut sehingga menjadi bab-bab seperti yang terdapat sekarang ini. Beliau juga menyusun
    kitab "Al-Faraid" (harta pusaka) dengan lengkap.
e. Antara hasil-hasil karya peninggalan Imam Abu Hanifah yang terbesar termasuklah:
     i.Fikah Akbar.
     ii.Al-A'lim Wal-Mutaa'lim.
     iii.Masnad, fikah Akbar dan lain-lain.
e. Selepas beliau wafat, mazhabnya berkembang dengan pesatnya hingga ke Mesir, Syria, India,
    Pakistan China, Khurasan, Turki dan sebahagian daripada negara Asia Tengah.

PETUA IMAM SYAFIE

4 PERKARA UNTUK SIHAT

Empat perkara menguatkan badan
1. Makan daging
2. Memakai haruman
3. Kerap mandi
4. Berpakaian dari kapas

Empat perkara melemahkan badan

1. Selalu cemas
2. Banyak minum air ketika makan
3. Banyak makan bahan yang masam

Empat perkara menajamkan mata
1. Duduk mengadap kiblat
2. Bercelak sebelum tidur
3. Memandang yang hijau
4. Berpakaian bersih

Empat perkara merosakan mata
1. Memandang najis
2. Melihat orang dibunuh
3. Melihat kemaluan
4. Membelakangi kiblat

Empat perkara menajamkan fikiran
1. Tidak banyak berbual kosong
2. Rajin bersugi (gosok gigi)
3. Bercakap dengan orang soleh
4. bergaul dengan para ulama

4 CARA TIDUR

1. TIDUR PARA NABI
Tidur terlentang sambil berfikir tentang kejadian langit dan bumi.

2. TIDUR PARA ULAMA' & AHLI IBADAH
Miring ke sebelah kanan untuk memudahkan terjaga untuk solat malam.

3. TIDUR PARA RAJA YANG HALOBA
Miring ke sebelah kiri untuk mencernakan makanan yang banyak dimakan.

4. TIDUR SYAITAN Menelungkup/tiarap seperti tidurnya ahli neraka.

IMAM SYAFIE

Riwayat Hidup
a.Nama sebenarnya ialah Abu Abdullah Muhammad bin Idris.
b.Beliau digelar "As-Syafie" sempena nama datuknya, Syafie bin Saib.
c.Imam Al-Syafie dilahirkan pada tahun 150 Hijrah bersamaan dengan 767
Masihi di Ghazzah, Palestin.
d.Beliau berasal dari keturunan Rasulullah s.a.w. pada sebelah datuknya,
Abdul Manaf (datuk ketiga Nabi Muhammad s.a.w. adalah datuk kesembilan
e.Imam as-Syafie adalah seorang imam mazhab yang empat, iaitu pengasas "Mazhab
Syafie".
f.Imam as-Syafie meninggal dunia pada tahun 204 Hijrah bersamaan dengan 820
Masihi ketika berusia 54 tahun dan dikebumikan di Arafah, Mesir.

Peribadi
a.Imam as-Syafie seorang yang berpandangan jauh, berhati mulia dan bercita-cita
tinggi.
b.Beliau berusaha dengan gigih dalam menuntut ilmu pengetahuan.
c.Beliau bersikap sederhana dalam semua segi, sama ada dalam tingkah laku,
berpakaian atau cara makan.
d.Beliau juga merupakan seorang yang bijak berbicara hinggakan dirinya
terlepas daripada hukuman pancung.
e.Beliau sangat menghormati dan memuliakan para guru yang mengajarnya.
f.Beliau sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Usia remajanya dihabiskan
dengan menuntut ilmu pengetahuan yang memberi manafaat.
g.Imam as-Syafie mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dalam
berbagai-bagai bidang.
h.Imam as-Syafie seorang hartawan yang sangat pemurah. Beliau sentiasa
menolong orang yang memerlukan bantuan.

Pendidikan
a.Imam as-Syafie rahimahullah mempunyai ketajaman akal fikiran yang luar
biasa sejak kanak-kanak lagi. Ketika berusia sembilan tahun,beliau hafaz
Al-Quran.
b.Diwaktu berumur dua belas tahun, beliau telah dapat menghafaz kitab Al-Muattok,
karangan Imam Malik dan seterusnya berguru dengan Imam Malik ketika berusia dua
puluh tahun.
c.Imam as-Syafie belajar dan mendalami bahasa dan kesusasteraan Arab
sehingga mahir dalam bidang penulisan.
d.Beliau menghabiskan usia remajanya dengan menghadiri kelas-kelas pengajian
agama di Masjidil Haram.
e.Imam as-Syafie bermusafir ke Makkah, Madinah, Yaman, Iraq dan negara-negara
lain dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya
termasuklah ilmu hadis, ilmu fikah dan Al-Quran.
f.Imam as-Syafie sangat mengutamakan pengetahuan dan disiplin. Beliau
membahagikan waktu malamnya kepada tiga bahagian:
i.1/3 malam untuk berehat.
ii.1/3 malam untuk menulis ilmu pengetahuan.
iii.1/3 malam untuk beribadat.
g.Imam as-Syafie berusaha dengan gigih dalam menuntut ilmu. Akhirnya, beliau
muncul sebagai imam besar yang mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi dan dapat
memberi sumbangan yang tidak ternilai kepada umat Islam.
Sumbangan
a.Imam as-Syafie adalah ulama mujtahidin yang berpegang kuat pada Al-Quran,
hadith, Ijmak Ulama, Qias dan Masolih Al-Mursalah.
b.Pendapat Imam as-Syafie diterima oleh sebahagian besar orang-orang Islam
kerana segala fatwanya sesuai dengan suasana, masyarakat dan adat resam sesuatu
kaum.
c.Antara kitab-kitab karangannya yang termashyur termasuklah bidang dalam usul
fikah; kitab yang membicarakan dengan jelas tentang cara mengambil hukum
daripada Al-Quran dan hadis.
Kitab-kitab tersebut ialah:
a.Abtal Al-Istihsan.
b.Ahkam Al-Quran.
c.Ar-Risalah.
d.Dalam bidang fikah; kitab yang membicarakan hukum-hukum fikah. Kitab
tersebut ialah;
i.Al-Mukhtasar Al-Kabir.
ii.Al-Mukhtasar as-Saghir.
iii.Al-Farid.
iv.Al-Umm.
e.Dalam bidang hadis; beliau telah menyusun sebuah kitab menjelaskan tentang
perselisihan hadis-hadis nabi. Kitab-kitab tersebut ialah;
i.Al-Masnad.
ii.Al-Amali.
iii.Ikhtilaf Al-Hadis.
f.Selain itu, beliau juga telah menghasilkan berbagai-bagai jenis kitab dalam
bidang ilmu tafsir, akhlak, ilmu falak, ilmu kedoktoran dan lain-lain yang memberi
sumbangan yang besar kepada ahli fikir Islam.
g.Mazhab as-Syafie berkembang dengan pesat di Afrika Utara, Mesir, Indo China,
Sri Lanka, Armenia, Kurdistan dan di Kepulauan Melayu,Indonesia, Singapura dan
Malaysia.